Desa Sidomulyo; Ampel Siapkan Tempat Karantina Angker Bagi Pemudik Nekat

BOYOLALI – Momentum Idul Fitri 1442 Hijriyah semakin dekat, tentunya bagi masyarakat yang berada di perantauan ingin bersilaturahmi bersama keluarga di kampung halaman. Namun karena pandemi Covid-19 belum berakhir, pemerintah kembali mengeluarkan larangan untuk mudik demi memutus rantai penyebaran Covid-19. Berbagai himbauan telah dilakukan sampai di tingkat desa. Namun meski sudah dilarang masih saja banyak masyarakat yang melanggarnya.

Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel memiliki cara unik untuk memberikan imbauan kepada warganya yang merantau agar tidak pulang kampung. Yaitu dengan mengkarantina warganya yang datang dari perantauan di sebuah ruangan kosong yang terdapat di lokasi punden di kawasan sendang desa yang terletak di Dukuh Piji. Meski ruangan yang dipergunakan untuk karantina layak pakai, namun lokasi karantina merupakan salah satu tempat yang diyakini angker di desa tersebut.

Kepala Desa Sidomulyo, Moh. Sawali menjelaskan bahwa upaya yang dilakukan di desanya ini dilatar belakangi kejadian pada tahun lalu, dimana warga Kecamatan Ampel yang pertama kali terpapar Covid-19 adalah warga Desa Sidomulyo.

“Disitulah muncul pelajaran yang sangat berharga untuk kita, sehingga kita lebih giat untuk mengantisipasi biar sesuatu yang berakibat fatal itu tidak kembali terulang,” ungkapnya saat ditemui di lokasi karantina pada Rabu (28/4/2021).

Dikatakan Sawali, sejak awal bulan Ramadan, pihaknya sudah mengimbau warganya yang merantau agar tidak mudik. Jika ada warga yang tetap mudik dan tidak bisa menunjukkan surat keterangan sehat dari dokter atau surat bebas Covid-19, maka terpaksa harus menjalani karantina selama tujuh hari di lokasi yang sudah disiapkan. Hingga saat ini, sudah ada dua orang perantau yang dikarantina di tempat yang disediakan. Sawali menambahkan, untuk kebutuhan logistik bagi orang yang menjalani karantina di lokasi tersebut, sudah disediakan Satgas Jogo Tonggo desa.

Dengan adanya upaya karantina seperti yang dilakukan oleh pemerintah desanya, Sawali berharap bahwa nantinya para perantau mengurungkan niatnya untuk pulang kampung hanya sebatas untuk bersilaturahmi.

“Toh silaturahmi sekarang kan bisa, melalui video call dan lain sebagainya,” tegas Sawali.

Salah satu perantau dari Tangerang, Fajar Adi Nugroho, yang kini sedang menjalani karantina di tempat tersebut, mengaku menyesal karena nekat pulang kampung ke desanya. Sebelumnya, Fajar sudah mengetahui tentang larangan pemerintah untuk mudik, namun nekat melakukannya dengan melewati jalan tikus dan berangkat pada malam hari, sehingga bisa lolos dari pantauan yang berwajib. Ditanya mengenai surat keterangan sehat, pihaknya mengaku belum memilikinya dan hanya asal pulang. Kini dia harus menjalani karantina di lokasi angker yang membuatnya merasa takut.

“Tetep disana aja dulu, jangan pulang dulu, daripada dikarantina kaya kita," pesan Fajar kepada perantau lain. (Tim Liputan Diskominfo Boyolali)

Share this Post: